Beranda NEWS Menelisik Kandidat Kuat Pasca Adi Sutarwijono Dicopot Sebagai Ketua DPC PDIP Surabaya

Menelisik Kandidat Kuat Pasca Adi Sutarwijono Dicopot Sebagai Ketua DPC PDIP Surabaya

0
Adi Sutarwijono (Sumber: liputan6.com)

Hariannetwork.com – Setelah resmi diberhentikan sebagai Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Surabaya, Posisi Adi Sutarwijono kini diisi sementara oleh ordan M Batara-Goa sebagai Pelaksana Tugas (Plt) selama tiga bulan.

Di masa transisi ini, perhatian tertuju pada siapa sosok yang akan menggantikan posisinya dalam memimpin partai berlambang banteng tersebut di Kota Pahlawan.

Sejumlah Nama besar dalam bursa kandidat Ketua DPC PDI Perjuangan mulai Mencuat, dari Walikota Surabaya Eri Cahyadi, Wakil Walikota Surabaya Armuji, hingga sejumlah anggota DPRD dari fraksi PDI Perjuangan seperti Baktiono, Abdul Goni, hingga tokoh muda partai seperti Eri Irawan.

Baca Juga: Banyak Kegiatan Besar, Tingkat Hunian Hotel di Kabupaten Banyumas Meningkat Pesat

Menanggapi Hal itu, pengamat politik dari Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ken Bimo Sultoni, S.I.P., M.Si., menilai DPP PDI Perjuangan perlu berhati-hati dalam menentukan figur pengganti Adi.

“Yang dibutuhkan bukan hanya popularitas, tapi juga kemampuan menjembatani kepentingan pusat dan lokal serta mengakar kuat di basis massa,” kata Bimo

Bimo Menjelaskan, siapa pun yang ditunjuk harus memenuhi dua syarat penting.

Pertama, harus mempunyai komunikasi politik yang efektif dengan DPP.

Kedua, Ia harus bisa menjaga stabilitas internal, terutama menjelang agenda besar partai seperti kongres nasional.

Bimo juga Menekankan bahwa siapapun kandidatnya harus siap menghadapi ekspektasi dan potensi perpecahan di tingkat akar rumput.

“Pencopotan Adi bukan hanya pergeseran jabatan, tapi juga pergeseran kekuasaan yang bisa memunculkan resistensi dari kader-kader loyal,” tambahnya.

Terkait Nama Walikota Surabaya Eri Cahyadi yang disebut-sebut menjadi figur kuat karena posisinya sebagai kepala daerah dan memiliki kedekatan dengan struktur DPP.

Namun Bimo yang juga peneliti Sygma mengingatkan bahwa jabatan ganda bisa jadi tantangan tersendiri.

“Kepemimpinan partai itu butuh energi penuh. Kalau dirangkap, harus ada strategi yang jelas agar tidak tumpang tindih kepentingan,” ucapnya.

Baca Juga: Menakar Demokrasi: SPD Soroti Masuknya Rezim Otokrasi Elektoral

Menurutnya, kemungkinan DPP PDI Perjuangan akan memilih figur yang tidak hanya memiliki pengaruh kuat, tetapi juga punya loyalitas yang tinggi kepada komando partai.

“PDI Perjuangan punya pola komunikasi komando yang kuat. Maka siapa pun pengganti Adi, dia harus bisa menerjemahkan instruksi DPP dengan cermat tanpa kehilangan kepercayaan kader di lapangan,” tutupnya.


Dapatkan berita dan informasi lengkap lainnya dengan cara klik https://hariannetwork.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here