Surabaya, 19 Mei 2026 – Menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional, bangsa Indonesia kembali diajak untuk menengok makna kebangkitan secara lebih mendalam. Selama ini, kebangkitan nasional kerap dipahami sebagai momentum sejarah lahirnya kesadaran kolektif bangsa untuk merdeka dari penjajahan. Namun di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, kebangkitan hari ini tampaknya tidak cukup hanya dimaknai sebagai semangat membangun ekonomi dan memperkuat politik negara. Indonesia juga membutuhkan kebangkitan batin, sebuah proses ruwat kebangsaan untuk menyembuhkan luka sosial dan merawat kembali jiwa persatuan.
Di tengah polarisasi sosial, melemahnya solidaritas, krisis keteladanan, hingga semakin tajamnya konflik di ruang publik, bangsa ini menghadapi tantangan yang tidak kalah berat dibanding masa lalu: ancaman keterpecahan dari dalam. Dalam konteks inilah, konsep ruwat—yang dalam tradisi Nusantara dimaknai sebagai proses membersihkan diri dari beban, kesialan, dan energi buruk—menjadi relevan sebagai metafora kebangsaan.
Ruwat bukan sekadar ritual adat, melainkan sebuah filosofi pemulihan. Ia mengajarkan bahwa sebelum melangkah maju, manusia perlu membersihkan dirinya; sebelum membangun masa depan, bangsa perlu menyembuhkan luka-luka masa kini. Semangat ini sangat sejalan dengan ruh Hari Kebangkitan Nasional, yang pada hakikatnya bukan hanya soal bangkit secara fisik, tetapi juga bangkit secara moral dan spiritual.
Sejarah mencatat bahwa lahirnya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 menjadi tonggak kesadaran nasional untuk keluar dari keterbelakangan dan penjajahan. Para pendiri bangsa memahami bahwa kebangkitan dimulai dari kesadaran, pendidikan, persatuan, dan keberanian memperbaiki nasib bersama.
Hari ini, tantangan bangsa telah berubah. Penjajahan fisik telah usai, tetapi kita menghadapi “penjajahan baru” berupa krisis etika, pragmatisme politik, individualisme, serta lunturnya rasa percaya antarwarga. Maka kebangkitan nasional di era modern harus dimulai dari ruwat sosial—membersihkan ruang publik dari kebencian, meruwat politik dari kepentingan sesaat, dan meruwat kehidupan bersama dari egoisme yang memecah persaudaraan.
Menurut Nashir, pengurus GP Parmusi Jawa Timur, Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur bangsa melalui pendekatan spiritual dan kebudayaan. “Jika dahulu para pendiri bangsa membangkitkan Indonesia dari penjajahan kolonial, maka generasi hari ini harus membangkitkan Indonesia dari penjajahan moral dan krisis adab. Kita membutuhkan ruwat kebangsaan—ikhtiar kolektif untuk membersihkan diri dari korupsi nilai, perpecahan, dan hilangnya empati sosial,” ujarnya.
Nashir menambahkan bahwa konsep ruwat memiliki keselarasan dengan nilai Islam, khususnya tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. “Dalam Islam, kebangkitan sejati selalu dimulai dari perbaikan batin. Membersihkan hati, memperbaiki niat, lalu menghadirkan manfaat bagi sesama. Hari Kebangkitan Nasional harus menjadi pengingat bahwa bangsa ini tidak cukup dibangun dengan infrastruktur, tetapi juga dengan adab, persaudaraan, dan kejujuran,” kata Nashir.
Ada pesan penting yang dapat diambil dari pertemuan antara semangat ruwat dan Hari Kebangkitan Nasional. Pertama, bangkit dimulai dari kesadaran akan masalah. Seperti dalam ruwatan, bangsa harus berani mengakui luka-lukanya sendiri: korupsi, ketimpangan, intoleransi, dan rendahnya kepercayaan publik. Kedua, bangkit berarti membersihkan dan memperbaiki diri. Kebangkitan nasional bukan hanya pembangunan fisik, tetapi juga reformasi moral, pendidikan karakter, dan pemulihan etika publik. Ketiga, bangkit adalah mengembalikan harmoni. Tujuan akhir ruwat adalah keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Ini sejalan Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar optimisme. Indonesia membutuhkan proses penyembuhan bersama. Mungkin sudah waktunya Hari Kebangkitan Nasional dimaknai tidak hanya sebagai peringatan sejarah, tetapi juga sebagai ruwat tahunan bangsa—momen membersihkan hati, memperkuat persaudaraan, dan meneguhkan kembali komitmen pada cita-cita kebangsaan.
Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu tumbuh, tetapi bangsa yang mampu meruwat dirinya sendiri. Dan pada akhirnya, kebangkitan nasional yang sesungguhnya adalah ketika Indonesia tidak hanya bangkit secara ekonomi dan politik, tetapi juga pulih dalam jiwa—kembali menjadi bangsa yang beradab, bersatu, dan saling menjaga.














