
Hariannetwork.com — Wonogiri, 13 Agustus 2025. Mahasiswa KKN-T IDBU 6 Universitas Diponegoro yang bertugas di Dusun Duwet, Desa Mlokomanis Wetan menghadirkan program bertajuk “Strategi Inklusif untuk Pemberdayaan Masyarakat Dusun Duwet bersama Budaya Karawitan sebagai Aset Desa”. Melalui pendekatan budaya, teknologi, kesehatan, hingga kewirausahaan, program ini menekankan karawitan tidak hanya sebagai seni tradisi, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi dan sosial masyarakat.
Energi Terbarukan untuk Ruang Gamelan
Kegiatan diawali dengan pemetaan kebutuhan energi dan instalasi sistem ramah lingkungan di ruang gamelan. Panel surya dan lampu otomatis dipasang untuk mendukung efisiensi pemakaian listrik.
Program ini dikembangkan oleh Abdiel Christian A. Surbakti dengan judul “Strategi Keberlanjutan Hemat Energi melalui Instalasi PLTS Atap dan Lampu Otomatis”, serta oleh Arsyad Azharuddin dengan “Instalasi Panel Surya untuk Lampu Otomatis”. Aktivitas ini melibatkan warga dalam pemasangan panel surya, sosialisasi perawatan, serta simulasi penggunaan lampu otomatis yang langsung dipraktikkan di ruang gamelan.
Baca Juga: Transfer Data Pribadi: Risiko Kedaulatan dalam Balutan Deal Ekonomi Global
Komunikasi Publik dan Identitas Organisasi
Dari sisi kelembagaan, mahasiswa membantu penguatan organisasi karawitan agar lebih dikenal dan diakui secara formal. Aktivitas ini mencakup diskusi dengan pengurus, pelatihan pembuatan konten digital, hingga perancangan logo dan dokumen administrasi yang kemudian diserahkan kepada kelompok karawitan. Ananda Ashita Salsabila melaksanakan “Pembuatan Media Sosial dan Pelatihan Kehumasan” dengan mengajarkan dasar komunikasi publik. Aretha Sandrina menyusun dokumen pengesahan organisasi bersama pengurus. Kharisma Agnes Suciana merancang identitas visual dan dokumen legalitas kelompok karawitan.
Edukasi Kesehatan dan Peningkatan Kualitas Hidup
Mahasiswa bidang kesehatan menyasar kelompok pemain karawitan dengan pendekatan promotif. Arif Hidayat membuat leaflet pola hidup sehat untuk mendukung lansia tetap aktif bermain gamelan. Saffana Aulia Az-Zahra menyampaikan penyuluhan karawitan sebagai media koping agar masyarakat memahami manfaat karawitan untuk kesehatan jiwa. Program dilakukan melalui penyuluhan langsung sebelum dan sesudah latihan, disertai pembagian poster edukatif agar peserta bisa mengingat kembali pesan kesehatan yang disampaikan.
Pemberdayaan UMKM dan Literasi Digital
Sejalan dengan pengentasan kemiskinan, mahasiswa juga memberdayakan pelaku usaha lokal. Aulia Nisa Agustina melakukan pendampingan pendaftaran dan penggunaan QRIS bagi UMKM. Ni Komang Tri Setyawati mensosialisasikan pentingnya NIB (Nomor Induk Berusaha) agar UMKM mendapat legalitas formal.
Dari sisi promosi, Muhammad Raka Insan Mahendra mengembangkan website karawitan, dan Novia Budi Rahayuningsih membuka kanal YouTube Karawitan Mulyo Laras.
“Dengan QRIS dan NIB, UMKM bisa lebih profesional dan mudah berkembang. Sementara media digital akan membantu karawitan menjangkau penonton lebih luas,” jelas Aulia.
Aktivitas pemberdayaan UMKM dan Literasi Digital ini diwujudkan dalam bentuk pelatihan penggunaan QRIS, simulasi pendaftaran NIB melalui OSS, serta pembuatan akun YouTube dan website yang langsung dikelola bersama warga.
Baca Juga: Menuju 80 Tahun Merdeka, Indonesia Terjebak Tarif Tak Setara dalam Perdagangan dengan AS
Kreativitas Anak dan Generasi Muda
Untuk melibatkan generasi penerus, mahasiswa menghadirkan pendekatan kreatif. Aurora Chantika Caturisha Ferrial melatih anak-anak membuat dekorasi origami untuk pementasan. Dhaifina Khafifah mengajak remaja melalui program “Swaraning Jiwa: Menemukan Diri Melalui Nada, Suara, dan Aksara” berupa permainan kenal diri dan Pesan Harapan sebagai simbol optimisme terhadap masa depan bagi anak. Mario Fernando Rusli mengkaji minat warga terhadap karawitan untuk bahan rekomendasi pengembangan, sementara Rizki Ahmad Febrian melakukan pemetaan minat pemuda melalui survei dan berita analisis.
Melalui kolaborasi multidisiplin ini, TIM KKN Universitas Diponegoro tidak hanya menjaga warisan karawitan, tetapi juga menempatkannya sebagai aset desa yang inklusif dan produktif. Dengan dukungan masyarakat, karawitan di Dusun Duwet diharapkan dapat menjadi simbol pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan berbasis budaya.













